Home » » Esensialisme Pendidikan: Dalam Bingkai Konsep, Histori dan Implementasi

Esensialisme Pendidikan: Dalam Bingkai Konsep, Histori dan Implementasi

Selasa, 25 Juni 2013 | 0 komentar

Tulisan oleh: Cecep Jaenudin 

Essensialisme adalah salah satu dari sekian banyak teori pendidikan yang ada sebagaimana yang kita ketahui. Selain essensialisme ada juga progresivisme, perenialisme, rekonstruktivisme dan lain-lain. Tentunya setiap teori memiliki prinsipnya masing-masing. Essensialisme yang dijadikan pokok bahasan dalam tulisan ini oleh penulis adalah teori pendidikan yang sempat mencuat pada tahun 1930 di Amerika. Teori ini adalah salah satu teori yang merespon teori progresivisme yang di gagas oleh golongan progresifis. Selain essensialisme ada juga perenialisme yang sama-sama teori respon dari progresivisme meskipun antara essensialisme dan perenialisme juga terdapat perbedaan prinsip.

Essensialisme cukup menarik untuk dibahas disini. Hal ini menurut hemat penulis terdapat beberapa poin yang sebenarnya sedang dibutuhkan oleh kalangan akademisi di Indonesia dalam kurun waktu sekarang ini. Di tengah gencarnya pendidikan ala proresifis dengan jargon membiarkan siswa mencari pendidikan dengan keinginannya sendiri.

Memang tidak salah dengan pendidikan pembebasan. Namun dalam tataran realitas kita temukan efek negatif dari prinsip progresifis itu. Gerak pendidikan cenderung melembek karena tidak ada dorongan yang kuat untuk memelajari disiplin ilmu. Pemilihan keilmuan pun karena sekehendaknya sendiri jadi jauh dari konsep integrasi ilmu. Karena cenderung memilih yang disukanya saja.

Esensialisme bagi penulis bukanlah kembali kepada pemikiran kolot pendidikan. Namun mengabarkan bahwa ada hal-hal dasariah yang harus dipahami oleh paea pesrta didik dalam pembelajarannya. Bukan bermaksud untuk mengekang. Karena dalam ujung kebuntuan progresifis ternyata banyak peserta didik yang tidak dapat memenuhi kebutuhabn tantangan di masyarakat.

Ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia saat ini. Hal itu dapat terlihat dari minat belajar siswa, guru, kurikulum dan yang lainnya. Ini hanyalah sedikit dari beberapa potret permasalahan pendidikan saja.

Sebagian pelajar mungkin sedikit “malas” ketika mereka harus mengikuti pelajaran yang kurang mereka sukai seperti matematika contohnya. Sepintas mungkin benar ketika ada pernyataan yang mengatakan bahwa anak tidak boleh dipaksa dalam menerima pelajarannya. Akan tetapi, anak tersebut harus tetap belajar matematika itu meskipun dia kurang menyukainya karena pada kenyataanya dalam dunia pekerjaan dan kehidupan matematika adalah keterampilan yang harus dimiliki.

Begitupun juga dengan guru saat sekarang ini. Para guru telah terkikis perannya karena kebanyakan dari mereka saat ini hanya sebatas mengajar tanpa menanamkan pendidikan yang kuat dan jelas kepada para siswanya. Akhirnya banyak siswa yang sudah tidak menghormati gurunya lagi. Padahal guru adalah lokus pembelajaran utama ditengah menjamurnya sumber-sumber belajar lainnya dewasa ini. Namun guru tetaplah harus menjadi lokus yang dapat lebih dekat dan mengakomodasi pembelajaran peserta didiknya.

Dua dari permasalahan diatas hanyalah sebagian kecil saja dari masalah-masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan. Perlu ada perombakan besar untuk kembali memulihkan citra potret pendidikan di negeri nusantara ini untuk menciptakan generas-generasi unggul masa depan.

Dari sekian banyak masalah-masalah yang dialamai oleh dunia pendidikan, essensialisme dengan berbagai prinsipnya menawarkan beberapa macam solusi sebagai jalan keluarnya.

Diantara permasalahan pokok yang dihadapi dunia pendidikan adalah masalah kedisiplinan. Aspek ini sudah sedemikian merosotnya sehingga baik siswa, guru maupun stakeholder pendidikan yang lain bebas berulah dan cenderung tidak peduli terhadap lingkungannya. Beberapa kasus penyimpangan pendidikan seperti tawuran, keterlambatan, mencontek dan tindakan-tindakan asusila lainnya tidak lain adalah sebab aspek kedisiplinan yang sudah kurang begitu diperhatikan.

Demikian juga soal tenaga pendidik yang ternyata banyak ditemukan tidak kompeten di bidangnya sehingga proses pembelajaran cenderung asal dan tidak berjalan dengan semestinya. Guru hanya seperti khotib jum’at yang hanya berbicara di atas mimbar sedangkan jamaahnya tidak menghiraukannya. Begitupun di sekolah juga para siswa terhadap guru-guru yang tidak kompeten di bidangnya.

Essensialisme dalam hal ini jelas berprinsip bahwa proses pembelajaran bukan;ah sesuatu yang mudah akan tetapi harus dibarengi dengan kedisiplinan tinggi (Bukan menindas) serta guru yang berfungsi sebagai lokus pengetahuan.

Sebuah Konsep
Esensialisme mendasari teori-teorinya pada pemikiran-pemikiran filsafat idealisme dan realisme. Konsep ini mencoba menjawab kerisauan masyarakat terhadap sekolah-sekolah yang “mulai rusak”, yang jauh dari kedisiplinan dan kajian hal-hal dasariah.

Dalam pandangan esensialisme, pendidikan tidak bisa mnurut sekehendaknya sendiri. Ada hal-hal dasar yang harus dipelajari dan dimiliki sebagai ketrampilan-keterampilan awal untuk menjadi modal dasar kedepannya. Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan kedisiplinan yang memadai.

Arus utama pendidikan populer telah berhasil dibentuk esensialisme di beberapa negara. Hal tersebut adalah pemikiran konservatif yang lebih memperhatikan fungsi sekolah dalam mengalihkan fakta-fakta dan kebenaran yang telah teruji daripada memperhatikan inovasi dan embel-embel pendidikan.  

Sepintas dari Historisitas
  Esensialisme adalah reaksi kedua terhadap progresivisme setelah perenialisme pada 1930-an. Aliran ini memandang sistem yang diterapkan oleh progresivisme terlalu “lembek”. Hal itu karena progresivisme hanya mengandalkan keinginan sebagai faktor utama dalam pelaksanaan pembelajarannya.

Realitas pun membuktikan bahwa pada waktu itu banyak siswa yang lulus dari sekolah tidak memiliki standarkemampuan yang dibutuhkan di pasaran.

Di samping itu esensialisme juga tidak sama dengan perenialisme yang terlihat terlalu aristokratis dan bahkan menurut sebagian pengamat bernada cita-cita anti demokratis.

Sejak tahun 1930-an kalangan esensialis telah mencetuskan usaha-usaha besar memperingatkan masyarakat di amerika khususnya tentang 'pendidikan menyesuaikan-hidup'. Pendidikan berpusat pada anak dan kemerosotan belajar di amerika.

Peluncuran sputnick pada tahun 1957 menambah bobot propaganda kalangan esensialis, karena banyak bangsa amerika menafsirkan kesuksesan uni soviet ini sebagai indikasi rendahnya pendidikan bangsa amerika.

Sebagai akibatnya, akhir tahun 50-an dan awal 60-an berlangsung program revisi masif kurikulum. Seruan ulang untuk kembali ke materi-materi dasariah mencuat jua pada tahun 70-an.

Implementasi Teori Dalam Proses Pembelajaran

 1. Sekolah mengajarkan pengetahuan dasariah

Menurut esensialisme tugas utama sekolah adalah mengajarkan pengetahuan dasariah kepada peserta didiknya. Pengetahuan dasariah yang dimaksud diantaranya adalah membaca, menulis dan berhitung. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tugas pokok menyelenggarakan pembelajaran keterampilan-keterampilan dasariah dan materi yang dengan penguasaan penuh akan menyiapkan pesrta didik untuk berfungsi sebagai anggota anggota masyarakat yang berperadaban.

Sekolah dasar menurut esensialisme memfokuskan pembelajaranya terhadap keterampilan membaca, menulis dan berhitung. Sedangkan untuk sekolah-sekolah tingkat lanjutan kurikulum pembelajarannya mlai diarahkan kepada sejarah, matematika, sains, bahasa asing dan sastra.

Bagi kalangan esensialis apa yang diperlukan pserta didik adalah pemerolehanpengetahuan tentang dunia ini melalui penguasaan materi ajar yang esensial dan dasariah.

2. Kedisiplinan

Kedisiplinan adalah salah satu elemen yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Halini cukup bertolak balakang dengan prinsip progresivisme yang lebih menekankan faktor keinginan dalam proses pembelajarannya.

Bagi kalangan esensialis pegetahuan dasar harus tetap diajarkan kepada peserta didik meskipun adabeberapa diantara pengetahuan tersebut ada yang tidak mereka sukai. Karena bagaimanapun juga pengetahuan dasariah sangatlah penting untuk kesinambungan masa depan mereka dan hal ini tentu saja harus ditempuh dengan usaha keras dan kedisiplinan.

3. Guru

Menurut esensialisme Guru bukanlah orangyang mengikuti keinginan siswa atau seorang pemandu. Akan tetapi guru adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan peserta didiknya untuk diketahui, dan sudah sedemikian kenal dengan tatanan logis materi ajar dan cara penyampaiannya. Hal ini tidaklah lantas menjadikan guru orang yang serba tahu daripada siswanya. Akan tetapi lebih cenderung memahami keadaan siswanya. Terhadap kondisi dan kebutuhan pembelajarannya.

Disamping itu, guru sebagai wakil dari komunitas orang dewasa berada dalam posisi yang menuntut rasa hormat. Jika rasa hormat tidak datang, guru meiliki hak dan tanggungjawab untuk menata tatanan kedisiplinan yang akan membawa kearah suasana yang kondusif untuk proses belajar yang tertib. Hal ini sebenarnya dimaksudkan agar ada hubungan saling menghormati antara siswa dan guru. Tidak bermaksud bahwa guru manusia yang wajib dimuliakan atau bahkan didewakan.


“Pengarang adalah Sekretaris Umum HMI Komfak Tarbiyah Uin Sunan Kalijaga”. Periode 2012/2013.

 
Share this article :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
: